Posted by: carbonytte | November 7, 2010

Kisah cinta Fatimah dan Ali

Ambil dari blog orang, or actually orang tu ambil dari blog orang lain, in which eventually datang dari sebuah buku berjudul “Kisah Cinta Para Pejuang”.

Cinta adalah hal fitrah yang tentu saja dimiliki oleh setiap orang,
namun bagaimanakah membingkai perasaan tersebut
agar bukan Cinta yang mengendalikan Diri kita
Tetapi Diri kita yang mengendalikan Cinta
Mungkin cukup sulit menemukan teladan dalam hal tersebut
disekitar kita saat ini
Walaupun bukan tidak ada..
barangkali, kita saja yang tidak mengetahui saking rapatnya dikendalikan

Tapi,
kebanyakan justru yang tampak ke permukaan adalah yang justru seharusnya tidak kita contoh
Kekurangan teladan?
Mungkin..

Dan inilah fragmen dari Khalifah ke-4, Suami dari Putri kesayangan Rasulullah
tentang membingkai perasaan dan
Bertanggung jawab akan perasaan tersebut
“Bukan janj-janji”

(mentang-mentang deket Pemilu..)

Kisah pertama ini diambil dari buku Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A.Fillah

chapter aslinya berjudul “Mencintai sejantan ‘Ali”

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah.
Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya.
Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya.

Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta.
Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta.
Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.
Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya!
Maka gadis cilik itu bangkit.
Gagah ia berjalan menuju Ka’bah.
Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam.
Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali.
Mengagumkan!
‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta.

Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan.
Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi.
Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah.
Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.
Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr.
Kedudukan di sisi Nabi?
Abu Bakr lebih utama,
mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali,
namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi.
Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah
sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya..
Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah.
Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab..
Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.
Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud..
Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali?
Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insyaallah lebih bisa membahagiakan Fathimah.
’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.

”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.
”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan.
Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.
Lamaran Abu Bakr ditolak.
Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri.
Ah, ujian itu rupanya belum berakhir.
Setelah Abu Bakr mundur,
datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa,
seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka,
seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut.
’Umar ibn Al Khaththab.
Ya, Al Faruq,
sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah.
’Umar memang masuk Islam belakangan,
sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr.
Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya?
Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman?
Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin?
Dan lebih dari itu,
’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata,
”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”
Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah.

Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya.
’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam.
Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam.
Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir.
Menanti dan bersembunyi.
’Umar telah berangkat sebelumnya.
Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah.
”Wahai Quraisy”, katanya.
”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah.
Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!”
’Umar adalah lelaki pemberani.
’Ali, sekali lagi sadar.
Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah.
Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak.
’Umar jauh lebih layak.
Dan ’Ali ridha.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan.
Itulah keberanian.
Atau mempersilakan.
Yang ini pengorbanan.

Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak.
Lamaran ’Umar juga ditolak.
Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi?
Yang seperti ’Utsman sang miliarder kah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah?
Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’ kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah?
Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.
Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka.
Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka?
Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu?
Atau Sa’d ibn ’Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan.
”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..”
”Aku?”, tanyanya tak yakin.
”Ya. Engkau wahai saudaraku!”
”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”
”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

’Ali pun menghadap Sang Nabi.
Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah.
Ya, menikahi.
Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya.
Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya.
Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap?
Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap?
Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.
”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan.
Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya.
Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya.
Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.

Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!”
Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.
Dan ia pun bingung.
Apa maksudnya?
Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan.
Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab.
Mungkin tidak sekarang.
Tapi ia siap ditolak.
Itu resiko.
Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab.
Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan.
Ah, itu menyakitkan.

”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
”Entahlah..”
”Apa maksudmu?”
”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”
”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,
”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua!
Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!”

Dan ’Ali pun menikahi Fathimah.
Dengan menggadaikan baju besinya.
Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya.
Itu hutang.

Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah.
Dengan keberanian untuk menikah.
Sekarang.
Bukan janji-janji dan nanti-nanti.
’Ali adalah gentleman sejati.
Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel,
“Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!”

Inilah jalan cinta para pejuang.
Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggungjawab.
Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Seperti ’Ali.
Ia mempersilakan.
Atau mengambil kesempatan.
Yang pertama adalah pengorbanan.
Yang kedua adalah keberanian.

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi,

dalam suatu riwayat dikisahkan

bahwa suatu hari (setelah mereka menikah)

Fathimah berkata kepada ‘Ali,

“Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda”

‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu”

Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”

Kisah ini disampaikan disini,

bukan untuk membuat kita menjadi mendayu-dayu atau romantis-romantis-an

Kisah ini disampaikan

agar kita bisa belajar lebih jauh dari ‘Ali dan Fathimah

bahwa ternyata keduanya telah memiliki perasaan yang sama semenjak mereka belum menikah tetapi

dengan rapat keduanya menjaga perasaan itu

Perasaan yang insyaAllah akan indah ketika waktunya tiba.

Advertisements
Posted by: carbonytte | October 24, 2010

Diri Ambo

In simple English, this is a true story about a “less fortunate” boy who grew up in a “less fortunate” family about his struggle till he eventually graduates from the university, and working, and how much he cries over the sacrifices done by his father to ensure that he becomes an educated and successful person. T_T…

Click more for lyrics.

Read More…

Posted by: carbonytte | October 24, 2010

long time no see / demam / diary

1) again. my wordpress is “the kotor” already, too long since i blogged here.

2) twice demam de this week. 1st was thursday nite, then followed by today (even better, demam whole day). maybe going to work early in morning for the whole week, and go back home @ about 10 isn’t really good for the body.

3) a friend of mine sent me a mail, which is actually her personal webdiary, not meant to be read by anyone else. but she forgot to make it “invited readers only” blog. well, can’t blame her. to this good friend of mine, what you should be doing is like what i am doing now :

1) Open up email.
2) Write email to self.
3) Send it.
4) label it “diary” or whatever.

At least people can’t read it (unless ur mail is h@xed).

So much to my friend for making a personal diary.

p/s: Even if you make it readable only to invited readers, beware that Google can still read it, so some people might know some ways to read it (to this friend of mine, i’m not going to post it here, but give me a heads up if you wish to know how).

4) happy blogging back.

Posted by: carbonytte | July 21, 2010

Kawaranai Mono

Found a quite old animemovie in my HDD. The Girl Who Leapt Through Time. waa. cedey2 layan this animemovie. Memang touching lol.

Anyway the title isn’t about the animemovie (in Japanese it is call Toki o Kakeru Shojo), but the title is about one of the best song heard in the movie (somewhere during the last part, where she went back through time and remembered of Chiaki-kun), Kawara Nai Mono, or in plain English, Unchanging Things.

Here’s the lyrics (thanks animelyrics.com) : [Oh yeah, it might be a little small on your screen, so press “CTRL”  and “+” at the same time to enlarge it]

Original / Romaji Lyrics English Translation
kaerimichi fuzakete aruita
wake mo naku kimi wo okoraseta
ironna kimi no kao wo mitakattanda
We joked around on our way home.
I made you angry for no reason.
I guess I just wanted to see your different sides.
ookina hitomi ga nakisou na koe ga
ima mo boku no mune wo shimetsukeru
surechigau hito no naka de kimi wo oikaketa
Your large eyes, your trembling voice,
Even now they are close by my heart.
In the crowd of strangers, I ran after you.
kawaranai mono sagashiteita
ano hi no kimi wo wasure wa shinai
toki wo koeteku omoi ga aru
boku wa ima sugu kimi ni aitai
I was searching for the things that never change.
I will never forget how you were on that day.
These feelings I have transcend time.
I just want to meet you now.
gaitou ni burasageta omoi
itsumo kimi ni watasenakatta
yoru wa bokutachi wo toozakete-itta ne
These feelings upon which the street lights shine,
I could never manage to let you have them.
The nights brought us further away from each other.
mienai kokoro de uso tsuita koe ga
ima mo boku no mune ni hibiteiru
samayou toki no naka de kimi to koi wo shita
The lie you told through your opaque heart,
Even now it continues to resonate within me.
Uncertain of our future, you and I fell in love.
kawaranai mono sagashiteita
ano hi mitsuketa shiranai basho e
kimi wo futari de yukeru no nara
boku wa nando mo umarekawareru
I was searching for the things that never change.
The unfamiliar place we found on that day,
If the two of us can go there together again,
I will be reborn as many times as it takes.
katachi nai mono dakishimeteta
kowareru oto mo kikoenai mama
kimi to aruita onaji michi ni
ima mo akari wa terashi-tsudzukeru
As I embrace the things that have no shape,
I fail to hear the breaking sound.
On the same path that we walked together,
Even now the light continues to shine.
kawaranai mono sagashiteita
ano hi no kimi wo wasure wa shinai
toki wo koeteku omoi ga aru
boku wa ima sugu kimi ni aitai
I was searching for the things that never change.
I will never forget how you were on that day.
These feelings I have transcend time.
I just want to meet you now.
boku wa ima sugu kimi ni aitai
I just want to meet you now.
Posted by: carbonytte | June 13, 2010

Haywire

Finally upgraded my Ibex today.

Ibex -> Jackalope -> Koala ; all within 2 hours. network isn’t so bad, but after koala was installed, disaster happened.

Wireless network becomes haywired. OMG! redid all the ifconfig and iwconfig. and then did dhclient.

last message before it exits : No DHCPOFFERS received. No working leases in persistent database – sleeping.

I’m sure I got the SSID name and WEP password correct. Ah sudah!

Posted by: carbonytte | February 4, 2010

As funny as ever

Read this, and find the fault.

Hi all

I try to use public DNS server form google (8.8.8.8, 8.8.4.4).

Apply to DHCPD of my offices.

But all client can’t not access http://www.google.com and maps.google.com.

When I change DNS to ISP DNS my client can access boat website.

Well if you can’t find it, read between the last line and ROTFL.

Posted by: carbonytte | December 6, 2009

Hasel

Yeah, bought new bluetooth headset. Now can listen to mp3s wirelessly while working. Tenkiu Sony, tenkiu PC Fair~

Posted by: carbonytte | July 20, 2009

Blog Moved

Salam / Hi All.

I’m in the process of moving my blog to http://carbonytte.blackapplehost.com/blog . All feed suscribers, please change the address to here : http://carbonytte.blackapplehost.com/blog/?feed=rss2

thank you.

Posted by: carbonytte | July 16, 2009

Derma Ikhlas Syed Mustaza

To all UTPians (Jan04, EE Jan04, anyone who knows the person)

Kite semua sedia maklum akan kehilangan yang dialami oleh salah seorang rakan kite, Syed Mustaza. Yang mane, ayahande beliau telah pergi ke Rahmatullah pade Sabtu lepas, 11 Julai 2009 bersamaan dengan 18 Rejab 1430H.

Dengan ini, kami ingin membuat pungutan derma yang diharap dapat membantu meringankan sedikit sebanyak kesusahan yang rakan baik kita alami. Untuk rakan-rakan yang ingin menderma, anda boleh menyalurkan wang derma anda secara tunai kepade Khairun Nadiah (KN) atau bagi yang jauh, sile lah memasukkan wang secara online kedalam akaun di bawah sebelum Isnin, 20 Julai 2009.

Kami akan men’transfer’kan derma yg kami kutip kepade wakil kite di Bintulu, Lokman untuk menyerahkan pungutan tersebut. Semoga sumbangan kita dapat membantu meringankan beban yang di pikul rakan kita.

Jangan lupe, sdekahkan Al-Fatihah untuk arwah ayahanda Syed, smoga almarhum diberkati oleh Allah. Sile forward email ini rakan-rakan lain yg tak terjangkau oleh email sy kali ini.

Berikut merupakan prosedur untuk makluman semua mengenai pungutan ini:-

Posted by: carbonytte | July 15, 2009

Back online

-: Posted through WordPress email :-

alhamdulillah.

Yeah, celcom3g activated back. sim failure… wadde..

« Newer Posts - Older Posts »

Categories